Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas APBN tetap terjaga di tengah eskalasi geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Hal tersebut diungkapkan dalam diskusi CNN Indonesia Economic Forum 2026 yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan (Senin, 02/03/2026).
Wakil Menteri Keuangan RI, Juda Agung memaparkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz dan eskalasi di Laut Merah, telah memicu kekhawatiran terhadap fluktuasi harga minyak dunia serta dampak turunannya yang berimbas pada stabilitas makroekonomi. Untuk memitigasi risiko dinamika geopolitik, saat ini Kemenkeu terus mengintensifkan simulasi uji ketahanan (stress test) terhadap indikator makroekonomi serta melakukan diversifikasi sumber pendanaan untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar Amerika Serikat (AS).
Juda mengungkapkan bahwa Kemenkeu secara rutin dan berkala melakukan stress test terhadap berbagai skenario global yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu tekanan di pasar keuangan. Berdasarkan hasil simulasi terburuk, pergerakan indikator makro dapat memberikan dampak signifikan pada stabilitas APBN dan beban negara.
Wamenkeu menjelaskan bahwa setiap kenaikan USD1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun. Lebih lanjut, pelemahan nilai tukar sebesar Rp100 terhadap dolar AS diproyeksikan akan berdampak sekitar Rp0,8 triliun terhadap pelebaran defisit, sementara kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp1,9 triliun.
Sebagai langkah menjaga kestabilan ekonomi, pemerintah juga turut aktif melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Langkah yang telah dilakukan antara lain dengan menerbitkan global bonds senilai USD4,5 miliar dalam mata uang Euro dan Renminbi (RMB) dengan tingkat yield yang dinilai kompetitif di pasar global.
“Minggu lalu, pemerintah telah menerbitkan global bonds senilai ekuivalen USD4,5 miliar dalam denominasi Euro dan RMB. Tingkat imbal hasil (yield) dari penerbitan tersebut tergolong kompetitif, dengan yield instrumen RMB berada pada kisaran 2–3 persen, sedangkan untuk denominasi Euro berada di level 4–5 persen,” tutup Juda.
