Forum ORTax

Quick Login :

Pilih Kategori Lainnya :
 

Klik New Topic untuk topik baru, Klik Post Reply untuk membalas.

Help

PPh Pemotongan/Pemungutan
Berisi semua hal yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan Pemotongan/Pemungutan dan permasalahannya
Topik = 9372 , Bahasan = 72109

Pencetus Pendapat
peope

Newbie


Location : Padang.
Joined : 10 Jul 2009.
Posts : 7.
10 Jul 2009 04:25

tolong kepada senior atau rekan2 sekalian saya mempunyai masalah tentang pph 23 dibiro perjalanan.....
kakak saya yang mempunyai usaha biro perjalanan kecil masih pusing tujuh keliling mengenai perhitungan pajak penghasilan (PPh) atas penerimaan jasa travel miliknya yang sama dengan potongan PPh jasa konstruksi. Yang menjadi dasarnya adalah, peraturan terbaru Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak.
Apakah pemotongan PPh Pasal 23 tersebut bersifat final? Lalu apakah perhitungan tarifnya berdasarkan jenis usaha kecil (yang mempekerjakan karyawan di bawah 15 orang), usaha menengah (20 orang-50 orang)?

Kemudian, sekarang ini perusahaan penerbangan (yang tidak bisa saya sebutkan) sudah memotong PPh sebesar 6% dari jasa komisi agen (agent commission) yang merupakan periuk nasi biro perjalanan. Nah, apakah perusahaan kakak saya itu masih terkena tarif 3% PPh Pasal 23? Teman saya merasa hal itu tidak adil.
tolong kepada rekan2 bagaimana jalan keluarnya
terimakasih

rekagatau

Newbie


Location : Padang.
Joined : 19 Jun 2009.
Posts : 43.
10 Jul 2009 04:32

mungkin saya akan mencoba menjawab permasalahan dari poepe
Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Pajak Penghasilan (PPh), pemotongan PPh Pasal 23 tidak berdasarkan klasifikasi jenis usaha. Memang UU tersebut menyebutkan adanya jenis usaha, yaitu jasa konstruksi yang memenuhi persyaratan tertentu dikenai pemotongan pajak penghasilan yang bersifat final.

Aturan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak nomor 178/PJ/2006 itu mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007. Sejak saat itu, otomatis untuk usaha biro perjalanan wisata dan jasa agen perjalanan wisata seperti milik kakak peope akan terkena pemotongan PPh Pasal 23 secara berganda (double taxation).

Artinya, sumber penghasilan yang sama akan kena pemotongan pajak sebanyak dua kali. Pertama, dari pihak operator penerbangan sebagai pemberi komisi (jasa perantara). Kedua oleh customer sebagai penerima jasa.

Agar tak terlalu memberatkan pengusaha, memang ada penurunan tarif pajak komisi untuk penghasilan yang diterima, yaitu dari 6% menjadi 4,5%. Tapi jangan lupa, ada penambahan pemotongan pajak dari customer sebagai penerima jasa sebanyak 3%.

Memang, pengenaan pajak secara berganda itu bukanlah hal yang tabu. Tapi biasanya pengusaha yang terkena selalu berusaha menghindar. saya menyarankan agar perusahaan jasa biro perjalanan wisata dan jasa agen perjalanan wisata, melalui asosiasi, menulis surat secara resmi kepada Ditjen Pajak mengenai adanya pemotongan pajak secara berganda tersebut. Dengan begitu semoga saja aparat pajak akan merevisi aturan tersebut setelah ada masukan dari para pelaku usaha.
sekian saran saya semoga berhasil...terimakasih

edisuryadi2

Genuine


Location : Cibubur......
Joined : 21 Feb 2008.
Posts : 2358.
10 Jul 2009 10:02

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 18/PJ.3/1989

TENTANG

PENGENAAN PPN ATAS JASA PERUSAHAAN PERJALANAN SERI PPN - 140

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 khususnya yang menyangkut masalah pengenaan PPN atas Jasa Perusahaan Perjalanan, maka setelah memperhatikan saran dan pendapat dalam pertemuan antara ASITA (Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia dengan Direktorat Jenderal Pajak c.q. Direktorat Pajak Tidak Langsung pada tanggal 11 dan 18 April 1989 maka dengan ini diberikan petunjuk sebagai berikut:

Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 maka Jasa Perusahaan Perjalanan adalah tergolong Jasa Kena Pajak. Oleh karena itu baik Biro Perjalanan Umum maupun Agen Perjalanan adalah Pengusaha Kena Pajak. Sesuai dengan Pengumuman Direktur Jenderal Pajak No.: PENG-139/PJ.63/1989 tanggal 27 Maret 1989 maka selambat-lambatnya tanggal 26 April 1989 mereka sudah harus melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
Kegiatan usaha Perusahaan Perjalanan pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:2.1. Kegiatan yang dilakukan oleh Biro Perjalanan Umum yang antara lain terdiri dari:
Membuat dan menjual produk Biro Perjalanan Umum sendiri yang berupa Paket Wisata, Komponen dari Paket Wisata terdiri dari tiket pesawat, akomodasi termasuk makan, angkutan darat/laut, jasa tour atau tour services (terdiri dari: menjemput dan mengantar tamu atau meeting service, mengurus dokumen re-ekspor barang atau handling service, dan jasa pendamping/penunjuk jalan atau guide service serta tontonan atau performance service);
Menjualkan produk pihak lain seperti Paket Wisata luar negeri, tiket pesawat, kapal dan mengurus dokumen perjalanan dsb.;
Mengorganisir konperensi atau Professional Conference Organizer (PCO);
2.2. Kegiatan Agen Perjalanan yang dapat berupa:
Menjual produk pihak lain seperti menjual Paket Wisata dalam maupun luar negeri, tiket pesawat, angkutan laut maupun kereta api dsb.;
Mengurus dokumen perjalanan dsb.



Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak menurut Pasal 1 huruf p adalah penggantian yakni: Nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan jasa, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-Undang PPN 1984 dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Namun demikian mengingat jasa Perusahaan Perjalanan ini mempunyai sifat yang khusus yang antara lain menjualkan produk berupa jasa yang dikecualikan dari PPN, jasa yang sudah dikenakan PPN atau jasa yang akan dikonsumsi di luar negeri maka menerapkan Pasal 1 huruf p secara harfiah akan menyebabkan ketidakadilan serta menyebabkan persaingan yang tidak sehat yang bertentangan dengan asas netralitas yang dianut PPN. Seperti diketahui jasa angkutan udara dalam negeri telah dikenakan PPN atas seluruh harga tiket termasuk komisi untuk Biro Perjalanan, sedang jasa hotel, jasa angkutan darat/laut dikecualikan dari PPN. Sementara itu Paket Wisata luar negeri yang dijual di Indonesia pada dasarnya jasa tersebut akan dikonsumsi di luar negeri.
Sehubungan dengan itu untuk menghilangkan keraguan dan agar ada keseragaman dalam perhitungan PPN yang terutang serta untuk menghindarkan pengenaan pajak berganda dan menghindarkan pengenaan jasa yang seharusnya tidak terutang PPN maka ditetapkan pengaturan sebagai berikut: 4.1. Dasar Pengenaan Pajak:
4.1.1. Dasar Pengenaan Pajak atas penjualan Paket Wisata baik dalam atau luar negeri, dan penjualan produk pihak lain seperti jasa angkutan udara/laut dan darat ditetapkan sebesar 10% dari nilai peredaran atau omzet (nilai invoice) tidak termasuk omzet dari penjualan tiket angkutan udara dalam negeri.
4.1.2. Dasar Pengenaan Pajak untuk kegiatan lainnya seperti pengurusan dokumen perjalanan, mengorganisir konperensi (PCO) adalah seluruh nilai peredaran atau omzet (nilai invoice) dikurangi dengan pungutan yang dibayar kepada Instansi Pemerintah yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak tersebut di atas sudah memperhitungkan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan. Dengan demikian maka Pajak Masukan dari Biro Perjalanan Umum maupun Agen Perjalanan tersebut tidak dapat dikreditkan lagi dan oleh karenanya tidak diperkenankan untuk dibebankan sebagai biaya perusahaan.
4.2. Perhitungan PPN yang terutang dan harus disetor adalah sebagai berikut:
4.2.1. Atas kegiatan penjualan Paket Wisata = 10% x 10% (nilai invoice - tiket angkutan udara dalam negeri) = Rp. X
4.2.2. Atas kegiatan lainnya seperti PCO =
10% x (nilai invoice - Pungutan yang dibayar kepada Instansi Pemerintah) = Rp. Y
PPN yang harus disetor = Rp. X + Y



Karena penerima Jasa Perusahaan Perjalanan pada umumnya konsumen perorangan maka kepada Perusahaan Pelayaran ini diizinkan membuat Faktur Pajak Sederhana yang dapat berupa business invoice yang bersangkutan atau kwitansi.

Saat terutangnya PPN adalah pada saat penagihan atau saat penerbitan invoice, yang sekaligus berfungsi sebagai Faktur Pajak Sederhana. Oleh karena itu saat penyetoran PPN selambat-lambatnya adalah tanggal 15 bulan berikutnya setelah diterbitkannya invoice tersebut, sedang saat melaporkan perhitungan PPN dengan SPT Masa PPN adalah selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah diterbitkannya invoice.

Demikian kiranya Saudara maklum dan agar dilaksanakan sebaik-baiknya.





DIREKTUR JENDERAL PAJAK

ttd
Drs. MAR'IE MUHAMMAD

Halaman 1 dari 1 •  1   • FirsT | PreV | NexT | LasT  •