Peraturan

Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai - SE - 19/BC/2004, 1 Jul 2004


Status :

Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai - SE - 19/BC/2004 Sudah tidak berlaku lagi karena diganti atau dicabut. Untuk melihat peraturan yang mengganti atau mencabut Klik disini !!

1 Juli 2004

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI
NOMOR SE - 19/BC/2004

TENTANG

PENGAJUAN PEMBERITAHUAN PABEAN BC 2.3 DAN BC 2.5

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,

Sehubungan dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 230/KMK.04/2004 tentang Perubahan Keenam Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK.05/1997 Tentang Pemberitahuan Pabean, dalam rangka mendukung program pemerintah untuk efisiensi dan kelancaran arus barang dan dokumen ke dan dari TPB serta mempermudah pelaksanaannya dilapangan, sementara menunggu penyempurnaan keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK.05/1997 dengan ini disampaikan petunjuk pelaksanaan penggunaan BC 2.3 dan BC 2.5 sebagai berikut :
  1. Pemberitahuan pabean BC 2.3
    1. BC 2.3 adalah pemberitahuan pemasukan barang impor ke Tempat Penimbunan Berikat (Kawasan Berikat/KB, Gudang Berikat/GB, Entrepot Tujuan Pameran/ETP, Toko Bebas Bea/TBB) dari Tempat Penimbunan Sementara (TPS).
    2. BC 2.3 dibuat oleh Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB), Pengusaha Pada Gudang Berikat (PPGB), Pengusaha Entrepot Tujuan Pameran (PETP), Pengusaha Toko Bebas Bea (PTBB).
    3. Sebelum BC 2.3 diajukan ke KPBC bongkar, pengusaha memberitahukan rencana pengajuan BC 2.3 tersebut ke KPBC pengawas melalui faximili, yang akan meneruskan informasi rsebut melalui media yang sama ke KPBC bongkar pada hari yang sama.
    4. BC 2.3 diajukan ke KPBC bongkar rangkap 3 (tiga) ditambah lembar copy lembar pertama sekurang-kurangnya 2 (dua) untuk BI dan BPS.
    5. KPBC bongkar memberikan pelayanan atas BC 2.3 yang diajukan oleh Pengusaha setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada butir 3.
    6. Atas BC 2.3 yang diajukan oleh PDKB :
      1. Diberikan penangguhan Bea Masuk (BM) dan tidak dipungut PPN, PPn BM dan PPh pasal 22 (PDRI) untuk barang yang berhubungan langsung, yaitu yang karena fungsi an sifatnya dipergunakan secara langsung di dalam kegiatan usaha industri pengolahan (di dalam pabrik) antara lain mesin produksi yang dipergunakan untuk kegiatan industri pengolahan termasuk suku cadang, bahan baku dan/atau bahan penolong;
      2. Diberikan penangguhan BM dan tidak dipungut PDRI dalam hal dilampiri Surat Keputusan Penangguhan BM untuk barang yang tidak berhubungan langsung, yaitu yang karena fungsi dan sifatnya tidak dipergunakan secara langsung di dalam  kegiatan usaha industri pengolahan (dipergunakan di luar pabrik) antara lain peralatan perkantoran dan peralatan konstruksi, forklift, genset, troli, AC;
      3. Diberikan penangguhan BM dan tidak dipungut PDRI dalam hal dilampiri Surat Ijin Kepala KPBC untuk barang contoh dari Luar Daerah Pabean (LDP);
      4. Diberikan penangguhan BM dan tidak dipungut PDRI dalam hal dilampiri PEB pada saat pengeluaran ke LDP untuk pengembalian barang contoh hasil olahan KB yang dikirimkan ke LDP;
      5. Diberikan penangguhan BM dan tidak dipungut PDRI dalam hal dilampiri PEB pada saat pengeluaran ke LDP untuk pengembalian barang perbaikan yang dikirimkan ke LDP.
    7. Terhadap BC 2.3 yang terkena NHI/NI, dilakukan pemeriksaan fisik barang di Kawasan Pabean atau di TPB.
    8. Pengeluaran Barang dari Kawasan Pabean mempergunakan SPPB-BC 2.3 yang diterbitkan oleh KPBC bongkar dan ditandatangani oleh Pejabat yang ditunjuk.
    9. Pada saat pengeluaran dari TPS ke TPB, SPPB-BC 2.3 ditandatangani oleh Petugas Dinas Luar/gate dan pada saat pemasukan barang ke TPB oleh Petugas di TPB, dalam hal dipergunakan lebih dari satu sarana pengangkut dibuatkan copy SPPB-BC 2.3 lembar 1 yang ditandasahkan oleh Pejabat KPBC Bongkar yang menangani pengeluaran barang ke TPB.
    10. BC 2.3 lembar 3 yang telah diberi nomor dan tanggal pendaftaran dan SPPB-BC 2.3 lembar 3 dikirim ke KPBC Pengawas TPB untuk keperluan penatausahaan.
    11. BC 2.3 lembar 2 dan SPPB-BC 2.3 lembar 2 ditatausahakan di KPBC bongkar.
    12. BC 2.3 lembar 1 dan SPPB-BC 2.3 lembar 1 ditatausahakan di Pengusaha TPB.
    13. Dalam hal ada pembayaran PNBP dilakukan di Bank Devisa Persepsi/PT. Pos Indonesia/Bendaharawan KPBC bongkar mempergunakan SSBP/BPBP, sedangkan untuk BM dan PDRI dilakukan di Bank Devisa Persepsi mempergunakan SSPCP.
    14. Pemberitahuan Pabean BC 2.3, SPPB-BC 2.3 dan Contoh Surat Pemberitahuan Rencana Pengajuan BC 2.3 adalah sebagaimana contoh dalam lampiran III Surat Edaran ini.
    15. Tatakerja pemasukan barang impor dari TPS ke TPB sebagaimana diatur dalam Lampiran I Surat Edaran ini.

  2. Pemberitahuan pabean BC 2.5
    1. BC 2.5 adalah pemberitahuan pengeluaran barang dari Tempat Penimbunan Berikat, kecuali pengeluaran untuk tujuan ekspor.
    2. BC 2.5 dibuat oleh Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB), Pengusaha Pada Gudang Berikat (PPGB), Pengusaha Entrepot Tujuan Pameran (PETP), Pengusaha Toko Bebas Bea (PTBB) tempat barang yang diberitahukan berada.
    3. BC 2.5 yang telah ditandatangani dan diberikan cap perusahaan diserahkan kepada Penerima Barang.
    4. BC 2.5 diajukan oleh Penerima Barang setelah ditandatangani dan diberikan cap perusahaan ke KPBC yang mengawasi TPB asal barang rangkap 3 (tiga) ditambah beberapa copy BC 2.5 lembar 1 dalam hal diperlukan.
    5. Atas BC 2.5 yang diajukan oleh PDKB yang barangnya akan dikeluarkan :
      1. Ke PDKB lainnya, diberikan penangguhan Bea Masuk (BM), pembebasan Cukai serta tidak dipungut PDRI terhadap :
        1)    Barang hasil olahan yang akan diolah lebih lanjut;
        2)     Mesin & Spare part yang akan dipindahtangankan dilampiri Surat Persetujuan  Direktur Jenderal; untuk yang akan direparasi atau dipinjamkan dilampiriSurat Persetujuan Kepala KPBC;
        3)   Bahan baku yang akan dipindahtangankan dan pengembalian karena tidak sesuai pesanan dilampiri Surat Persetujuan Direktur Jenderal;
        4)   Disubkontrakkan dilampiri Surat Persetujuan Kepala KPBC;
        5) Barang yang akan disubkontrakkan dilampiri Kontrak Kerja dan Persetujuan Kepala KPBC;
        6)  Barang hasil pengerjaan subkontrak dilampiri copy BC 2.5 pada saat pemasukan dan Kontrak Kerja.
      2. Ke ETP untuk dipamerkan, diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai serta tidak dipungut PDRI dilampiri surat persetujuan Kepala KPBC;
      3. Ke DPIL untuk :
        1) dijual, dipungut BM, Cukai serta PDRI dengan ketentuan :
        a)  BM berdasarkan klasifikasi sebagai barang jadi pada saat dikeluarkan dan nilai pabean berdasarkan harga barang pada saat pemasukan;
        b)   Cukai berdasarkan ketentuan perundang undangan Cukai yang berlaku;
        c)  PPN dan PPn BM berdasarkan harga penyerahan;
        d)  PPh pasal 22 impor berdasarkan harga penyerahan untuk barang hasil olahan yang bahan bakunya seluruhnya berasal dari impor;                
        PPh pasal 22 impor berdasarkan tarif dikalikan dengan prosentase kandungan bahan baku impor ikalikan harga penyerahan terhadap pengeluaran barang hasil olahan yang bahan bakunya berasal dari impor dan lokal.
        2) disubkontrakkan, diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai dan tidak dipungut PDRI, dilampiri Kontrak kerja, Surat Persetujuan Kepala KPBC dan dipertaruhkan jaminan;
        3) diperbaiki, diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai dan tidak dipungut PDRI, dilampiri Surat Perintah Kerja, Surat Persetujuan Kepala KPBC dan dipertaruhkan jaminan;
        4)  pengembalian hasil subkontrak, diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai dan tidak dipungut PDRI, dilampiri copy BC 4.0 pada saat pemasukan dalam tidak ada tambahan komponen berasal dari impor.
      4. Ke Perusahaan yang mendapat fasilitas KITE :
        1)  dijual, dipungut BM dan PDRI;
        2)  pengembalian hasil subkontrak, diberikan penangguhan BM, pembebasan Cukai dan tidak dipungut PDRI, dilampiri copy BC 2.4 pada saat pemasukan.
      5. Untuk tujuan dimusnahkan dibebaskan dari pungutan BM, Cukai untuk BKC, dan tidak dipungut PDRI dan pelaksanaannya dilakukan :
        1)   Di KB, dibuatkan Berita Acara Pemusnahan;
        2) Di Luar KB dibuatkan SPPB-BC 2.5 oleh KPBC Pengawas dan dipertaruhkan jaminan. Jaminan dikembalikan setelah dibuatkan Berita Acara Pemusnahan.
    6. Pengeluaran Barang dari TPB mempergunakan SPPB-BC 2.5 yang diterbitkan oleh KPBC Pengawas dan ditandatangani oleh Pejabat yang ditunjuk.
    7. Pada saat pengeluarannya, SPPB-BC 2.5 ditandatangani oleh Petugas Di TPB.
    8. BC 2.5 lembar 2 dan SPPB-BC 2.5 lembar 2 dan lembar 3 ditatausahakan di KPBC Pengawas TPB asal barang.
    9. BC 2.5 lembar 1 dan SPPB-BC 2.5 lembar 1 ditatausahakan di Penerima Barang.
    10. BC 2.5 lembar 3 ditatausahakan di Pengusaha TPB.
    11. Dalam hal pengeluaran barang sebagaimana dimaksud pada butir 6 ditujukan ke TPB lainnya:
      1. pada saat pemasukannya di TPB tujuan, SPPB-BC 2.5 ditandatangani oleh Petugas Di TPB tujuan;
      2. copy BC 2.5 lembar 1 dan SPPB-BC 2.5 lembar 3 diserahkan ke KPBC Pengawas TPB tujuan untuk keperluan penatausahaan;
      3. BC 2.5 lembar 2 dan SPPB-BC 2.5 lembar 2 ditatausahakan di KPBC Pengawas TPB asal barang;
      4. BC 2.5 lembar 1 dan SPPB-BC 2.5 lembar 1 ditatausahakan di TPB tujuan.
      5. BC 2.5 lembar 3 ditatausahakan di Pengusaha TPB asal barang. 
    12. Dalam hal ada pembayaran PNBP dilakukan di Bank Devisa Persepsi/PT. Pos Indonesia/Bendaharawan KPBC mempergunakan SSBP/BPBP, sedangkan untuk BM dan PDRI dilakukan di Bank Devisa Persepsi mempergunakan SSPCP.
    13. Pengusaha yang mendapat fasilitas PIB berkala, dengan dikeluarkannya surat edaran ini, penggunaan PIB berkala digantikan dengan BC 2.5 berkala. BC 2.5 berkala.
    14. Bagi Pengusaha yang belum mendapat fasilitas PIB berkala, yang memerlukan penggunaan BC 2.5 berkala untuk pengeluaran barangnya dari TPB, mengajukan permohonan pengajuan BC 2.5 berkala ke KPBC yang mengawasi TPB yang bersangkutan. 
    15. Pengeluaran barang untuk pengusaha yang mendapat fasilitas BC 2.5 berkala sebagaimana dimaksud pada butir 13 :
      1. Sebelum pengeluaran barang, pengusaha TPB mengajukan permohonan pengeluaran barang dari TPB rangkap 3 (tiga) kepada KPBC Pengawas TPB asal barang;
      2. Pengeluaran barang dari TPB oleh penerima barang dengan mempergunakan SPPB-BC 2.5 rangkap 3 (tiga) yang diterbitkan oleh Pejabat KPBC Pengawas TPB asal barang dengan diberi cap "BC 2.5 BERKALA" setelah memberikan nomor dan tanggal pendaftaran khusus atas permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a;
      3. Penatausahaan lembar permohonan sebagaimana dimaksud pada huruf a serta lembar SPPB-BC 2.5 berkala sesuai dengan ketentuan penatausahaan lembar BC 2.5 dan lembar SPPB-BC 2.5.
    16. Pemberitahuan BC 2.5, SPPB-BC 2.5, Contoh Surat Permohonan Pengajuan BC 2.5 Berkala dan Contoh Surat Permohonan Pengeluaran Barang Dari TPB Untuk BC 2.5 Berkala adalah sebagaimana contoh dalam lampiran III Surat Edaran ini.
    17. Tatakerja pengeluaran barang dari TPB sebagaimana diatur dalam Lampiran II Surat Edaran ini.
Demikian untuk dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.





Direktur Jenderal,

ttd.

Eddy Abdurrachman
NIP 060044459


Tembusan Yth:
1.    Sekretaris Direktorat Jenderal;
2.    Para Pejabat Eselon II Kantor Pusat DJBC


Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara ekslusif untuk www.ortax.org dan TaxBase

1
2
Kawasan Berikat
Keputusan Menteri Keuangan - 291/KMK.05/1997, Tanggal 26 Jun 1997
back to top